Pohon Pisonia, Sang Pembawa Maut Bagi Ribuan Burung

Loading...
Pohon Pisonia Pembawa Maut - Pisonia brunoniana ialah satu spesies pohon berbunga dalam keluarga Nyctaginaceae yang datang dari Selandia Baru, Pulau Norfolk, Lord Howe Island serta Hawai ʻi. Di negara Selandia Baru pohon ini lebih dikenal dengan nama parapara atau pohon penangkap burung.

Pisonia brunoniana sendiri merupakan pohon kecil, yang tingginya dapat mencapai 6 meter dan bahkan bisa lebih tinggi lagi. Pohon Pisonia sendiri, memiliki tekstur kayu yang lembut dan juga cabang yang mudah rapuh. Pohon ini memiliki ukuran daun yang besar dan tata letak yang bersimpangan (Alternate). Saat matang, buah dari pohon Pisonia berubah menjadi warna hitam  dan menjadi amat lengket, sehingga burung kecil seringkali terjerat akibat lengketnya buah ini. 

Sumber: @botanistiindonesia via Instagram
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom:  Plantae
Clade:       Angiosperms
Clade:       Eudicots
Order:       Caryophyllales
Family:      Nyctaginaceae
Genus:      Pisonia
Species:    P. brunoniana 

Penyebaran Di Selandia Baru 
Di negara Selandia Baru, Pisonia brunoniana umumnya tumbuh di hutan pantai di Pulau Raoul di kelompok Kermadec, di tiga Kings Islands, dan juga di Pulau Utara yang tersebar dari pelabuhan Whangape hingga ke Mangawhai. 

Tanaman ini sendiri banyak dibudidayakan menjadi pohon hias di Selandia Baru, khususnya di Pulau Utara. Tanaman ini dapat dikategorikan hampir punah di Pulau Utara, hal ini dikarenakan daun besar P. brunoniana merupakan daun yang sangat disenangi untuk dimakan oleh hewan seperti  kambing dan juga ternak liar. 

Fakta Mengerikan
Pohon bernama Pisonia brunoniana ini, terkenal sebagai pohon yang mengerikan. Namanya yang indah tidak seindah kenyataannya, malahan sebagai penyebab maut atau kematian bagi burung-burung yang hinggap di pohon ini.

Pohon ini tidak mempunyai wujud yang dapat mengancam atau membahayakan jika dilihat, tidak memiliki duri dan juga buah yang tidak beracun. Akan tetapi, bila diteliti dari akar sampai rantingnya, akan kita dapatkan ratusan hingga ribuan tulang dan juga tubuh-tubuh kecil burung yang kaku dan telah mengering.

Berada di lokasi yang beriklim tropis serta tersebar di banyak pulau di mulai dari Hawaii hingga ke samudera Pasifik, pohon ini memberikan efek yang membuat banyak burung mati karenanya. 

Tidak hanya itu, pohon ini juga dikenal akan kemampuannya dalam menghasilkan kacang-kacang yang ukurannya panjang dimana polongnya dilapisi getah tipis yang lengket, seringkali menjebak serangga untuk dijadikan umpan yang berfungsi untuk memikat burung agar masuk ke dalam perangkap. 

Menyaksikan serangga yang terperangkap, burung-burung menjadi kurang berhati hati dan juga menghilangkan prasangka buruknya dan setelah itu bergegas untuk mencoba mematuk serangga yang terperangkap. Disaat burung-burung tersebut tidak berhati-hati atau lengah, mereka akan terjerat oleh biji yang amat lengket itu.

Seperti yang diberitakan di Washington Post, banyak burung yang telah terkena perangkap maut itu. Ada burung yang sempat atau berhasil terbang namun lantaran banyaknya biji yang lengket pada tubuh burung khususnya pada bulu sayapnya, burung tidak mampu untuk terbang lebih jauh dan pada akhirnya jatuh kembali ke tanah, bahkan juga yang paling tragis burung tersebut jatuh ke laut. Ada juga yang terperangkap di cabang-cabang pohon dan pada akhirnya menjadi seperti hiasan pohon natal yang amat mengerikan.” 

Beruntung apabila burung itu disambar oleh hewan pemangsa yang lewat di dekat pohon itu. Jika tidak, burung itu akan mati perlahan-lahan dikarenkan kelaparan dan tidak bisa untuk mencari makan. Pada umumnya burung-burung belum pernah berpeluang lolos dari jebakan dari pohon Pisonia. 

Riset Mengenai Pohon Pisonia
Sumber: @botanistiindonesia via Instagram
Kisah keganasan pohon Pisonia ini selanjutnya membuat ketertarikan seorang ekologis bernama Alan Burger yang berasal dari Universitas Victoria dan seringkali mendengar mengenai rekam jejak pohon pemangsa burung ini. Ia selanjutnya pergi ke kepulauan Seychelles di Samudera Hindia guna mencari tahu kebenaran atau fakta kenapa pohon-pohon pembantai ini membunuh burung burung malang itu.

Awalnya, telah ada dua teori utama kenapa pohon Pisonia gemar membunuh burung. Untuk teori pertama, akar pohon akan memperoleh nutrisi atau unsur-unsur hara dari burung yang telah mati. Sedangkan teori kedua, biji yang melekat pada burung mati membutuhkan mayat dari burung itu untuk menjadi pupuk buat mendukung pertumbuhan benih tersebut kedepannya. 

Lebih dari 10 bulan lamanya, Alan Burger melaksanakan eksperimen buat melihat ada atau tidaknya keuntungan yang didapatkan pohon Pisonia dengan membunuh burung-burung tersebut lantaran tertutupi oleh bijinya. 

Akan tetapi sesudah diteliti, nyatanya biji yang ada disekitar bangkai burung tumbuh biasa-biasa saja dan tidak ada kelebihan dan hal menariknya sama sekali, justru malahan kotoran burung itu lebih berguna dibandingkan dengan bangkai burung tersebut. Oleh karenanya, bisa diambil kesimpulan bahwasanya burung itu lebih baik dibiarkan hidup ketimbang mati.

Pada eksperimen selanjutnya, Alan Burger kemudian mencelupkan biji-bijian itu ke dalam air laut guna mempelajari apakah pohon Pisonia menjadikan bangkai burung tersebut menjadi rakit, guna menyebarkan diri melalui biji dari satu pulau ke pulau lainnya. Nyatanya, benih pohon Pisonia mati hanya dalam tempo 5 hari seusai dicelupkan ke dalam air laut, sekaligus juga mematahkan atau membantah hipotesa yang telah dibuat sendiri oleh Alan Burger.

Alan Burger selanjutnya kembali mencoba mencelupkan bibit Pisonia sesekali secara singkat ke dalam air laut untuk beberapa minggu lamanya. Ternyata, benih itu mampu bertahan hidup. Benih-benih pohon Pisonia yang dapat bertahan hidup itulah yang mampu hidup serta tumbuh menjadi pohon yang baru dimana saja benih tersebut menempel dan terbawa oleh burung.

Burung yang masih hidup nampaknya merupakan media penyebaran dari pohon Pisonia. Walaupun demikian, terdapat resiko yang menyebabkan kematian bagi burung dikarenakan benih yang amat lengket. Perihal itulah yang menyebabkan banyak burung terjerat dan akhirnya dapat menyebabkan kematian bagi burung tersebut,” jelas Alan Burger seperti yang dikutip dari Washington Post.

Matinya burung-burung lantaran terkena getah Pisonia, sesungguhnya hanya kerusakan yang sebenarnya tidak disengaja atau dikatakan berlangsung secara alami, sepanjang burung-burung itu hidup buat menebarkan benih-benih pohon Pisonia, karena itu Pisonia selalu tumbuh menyebar di beragam tempat lainnya.


Laporan tentang penelitian Alan E. Burger ini, telah diterbitkan dan dipublikasikan di Journal of Tropical Ecology Vol. 21, No. 3 (May, 2005), pp. 263-271.

Itulah informasi yang dapat abang nji sampaikan kepada sahabat-sahabat sekalian tentang Pohon Pisonia, Sang Pembawa Maut Bagi Ribuan Burung. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan sahabat-sahabat sekalian dan jika ada informasi yang kurang tepat silahkan dihubungi melalui contact yang tersedia.

Semoga bermanfaat

0 Response to "Pohon Pisonia, Sang Pembawa Maut Bagi Ribuan Burung"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel